SOE

Sep 15 at 3:18am - vincent
Soe adalah ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan, salah satu kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Untuk pergi kesana kita harus menempuh 110 km dari Kupang.

Gimana dengan obyek menarik yang ada disana?


Tiga Swapraja

Tiga Swapraja merupakan simbol 3 Kerajaan besar yang pernah ada di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Menurut sejarah, sebelum terbentuk Kabupaten Timor Tengah Selatan, dulunya pernah didiami 3 Kerajaan atau swapraja yaitu Swapraja Mollo(OEnam), Swapraja Amanuban(Banam) dan Swapraja Amanatun(Onam). Bahkan sampai sekarang masyarakat disana masih kental dengan adat-istiadat yang ditinggalkan oleh 3 Kerajaan tersebut.

Banyak potensi wisata yang bisa kita lihat disana loh, pengen tau apa aja?


Pantai Kolbano

Pantai ini terletak sekitar 130 km atau sekitar 3-5 jam perjalanan dari Kupang. Pantai yang menghadap ke Samudra Hindia ini dipenuhi dengan bebatuan kecil berbentuk lempeng dan bertekstur halus layaknya batuan pantai, yang dinamakan batu kolbano oleh warga sekitar. Batu ini menjadi komoditi andalan masyarakat di sekitar Pantai Kolbano. Gak cuma itu aja, di Kolbano juga terdapat sebuah batu besar yang disebut masyarakat sekitar "Fatu UN”


Air Terjun Oehala

Desa Oehala berada 13 km dari kota Soe (10 km dari jalan utama ; 3 km jalan masuk). Air terjun Oehala memiliki 7 kolam yang berada di lokasi berbeda-beda. 7 kolam ini tersusun seperti bertingkat-tingkat. Untuk melihat ketujuh air terjun itu, sudah dibuat tangga dari semen menurun sekitar 40 anak tangga.


Taman Rekreasi Bu’at

Jarak yang harus ditempuh untuk pergi ke tempat ini adalah 5 km dari kota Soe. Sepanjang perjalanan memasuki Taman Wisata Bu’at, disebelah kiri kanan jalan banyak kita jumpai pohon Mahomi yang menjulang. Udara sejuk dan berbagai permainan seperti jungkat-jungkit, perosotan dan masih banyak lagi ada disini. Fasilitas kolam renang dan vila penginapan yang disewakan juga tersedia di dalam lokasi Taman Wisata Bu’at. Di Bu’at juga terdapat danau yang bernama danau Bu’at yang terdapat buaya. Selain itu monyet dan beberapa jenis burung juga dipelihara disini. Tapi sayangnya, karena kurang perhatian dari pemerintah, beberapa satwa yang ada telah mati.

Tahun 2000 lalu area Taman Wisata Bu’at sempat dijadikan tempat Pencanangan Pekan Penghijauan Nasional oleh ibu Megawati Soekarno Putri yang waktu itu menjabat sebagai Presiden RI. Selama Pekan Penghijauan Nasional tersebut dilakukan penanaman anak'an pohon cendana dan beberapa pohon lainnya seperti sukun dan mangga.

Hanya dengan membayar Rp 3000 kita dapat menikmati jalan-jalan sambil merasakan kesejukan Taman Wisata Bu’at serta ketenangan sambil melihat suasana kota Soe dari atas bukit.


Suku Boti

Boti merupakan salah satu suku Desa di Kecamatan Kie Kabupaten Timor Tengah Selatan. Di Desa ini bermukim suku asli yaitu Suku Boti. Boti sering disebut sebagai "Indonesia Amish” yang merupakan kekayaan sejarah dan budaya negeri kita yang masih lestari dan telah menarik puluhan peneliti dari luar untuk datang. Kehidupan mereka cukup sederhana dan jauh dari teknologi modern dan tidak tersentuh budaya luar, tapi Boti menerima pendatang dengan begitu bersahabat.

Area perkampungan suku Boti terpisah menjadi dua, Boti Dalam dan Boti Luar. Penduduk Boti Dalam masih memegang kepercayaan kuno yang disebut Halaika, sedangkan Boti Luar sudah banyak menganut agama Kristen dan Katolik. Untuk memelihara kelestarian adat serta kepercayaan kuno, ada aturan yang harus dipatuhi, misal larangan berpindah keyakinan bagi penduduk Boti Dalam. Apabila melanggar, maka mereka harus keluar dari lingkungan dan tinggal di wilayah luar.

Dalam kepercayaan Halaika yang mereka anut terdapat dua penguasa alam yang harus disembah yaitu Uis Pah dan Uis Neno Paha tau alam semesta dianggap sebagai ibu yang mengatur, mengawasi serta menjaga kehidupan beserta isinya. Sedangkan Uis Neno atau sang pencipta dianggap sebagai ayah yang merupakan penguasa alam baka dan menentukan seseorang masuk surge atau neraka berdasarkan perbuatannya di dunia. Mereka percaya bahwa selain harus berbakti terhadap sang pencipta, alam dan lingkungan pun harus dihormati. Itu sebabnya penduduk Boti benar-benar hidup selaras dengan alam, berusaha untuk tidak merusaknya. Bahkan hubungan dengan sesama pun dilakukan dengan baik.

Keunikan lain terlihat pada sistem penanggalan Suku Boti, karena bagi mereka satu minggu bukan terdiri dari tujuh hari namun sembilan hari. Setiap hari kesembilan, seluruh penduduk Boti berkumpul di bangunan adat untuk menerima petuah-petuah dari Usif. Kesempatan ini juga digunakan untuk memberikan masukan usulan dan melakukan diskusi dengan Usif serta penduduk lain mengenai berbagai hal menyangkut kehidupan bersama.

Kamu gak perlu cemas ketika jam makan tiba, walaupun tidak ada warung, mereka akan menyuguhkan hidangan lokal yang istimewa seperti nasi dari padi di ladang sendiri, telur dadar dari ayam kampung di belakang rumah, sayur labu hasil memetik di halaman, serta teh hangat dari racikan sendiri yang airnya beraroma asap kayu bakar. Bahkan minyak kelapa untuk menggoreng pun dibuat sendiri sehingga meninggalkan rasa gurih yang kuat. Tidak ada bahan masakan diambil dari luar desa. Begitu alami, sehat, dan tentu saja ramah lingkungan. Dalam tata cara adat Boti, mereka harus mendahulukan tamu saat makan. Apabila tamu belum makan maka tuan rumah tidak diperkenankan makan terlebih dulu, sebuah penghormatan yang sangat tinggi.


Kawasan Cagar Alam Gunung Mutis

Dari Soe, perjalanan dilanjutkan menuju Kapan, Kota Kecamatan Mollo Utara. Dari Kapan, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Fatumnasi, sebuah desa yang berada di lereng Gunung Mutis dan merupakan pintu masuk untuk memasuki kawasan wisata ini. Perjalanan sejauh 15 km.tempat ini dihuni oleh salah satu suku tertua di Nusa Tenggara Timur, yaitu Suku Dawan.

Gunung Mutisadalah gunung tertinggi di Pulau Timor (2.427 di atas permukaan laut). Kawasan wisata ini terkenal dengan gunung-gunung batu marmernya yang oleh masyarakat setempat disebut Faut Kanaf atau batu nama. Di bawah Faut Kanaf, terdapat sumber-sumber mata air yang disebut Oe Kanaf atau air dari batu. Air yang bersumber dari Faut Kanaf tersebut mengalir menuju satu titik dan membentuk dua buah DAS (Daerah Aliran Sungai) yang oleh masyarakat disebut DAS Benain dan DAS Noelmina. Kedua DAS ini merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat Timor Tengah Barat sampai hari ini.

Berbagai macam flora & fauna dapat kita jumpai, mulai dari berbagai jenis ampupu yang tumbuh secara alami dan jenis cendana. Selain itu disini dapat ditemui berbagai jenis pohon lainnya seperti hue, bijaema, haubesi, kakau atau cemara gunung, manuk molo, dan oben. (*/Lewis R.A Nggeolima)
 
Lifestyle